[Read] #7 Di Tempat Yang Jauh - Dynamite


--

Sebelum berjalan cukup jauh kami bertemu dengan Pak Hendra.

“Apa kamu sudah memutuskannya, Viola ?” Pak Hendra tersenyum seperti sudah mengetahui kalau akan ada kejadian seperti ini.

“Kamu pernah bercerita kalau kakekmu pernah ke Pulau Tengah, bukan ?” Pak Hendra melanjutkan.

“Itu artinya kakekmu juga mengambil keputusan yang sama denganmu, walaupun kita belum tau bagaimana dia bisa keluar dari tempat ini.” Pak Hendra masih menatap Viola dengan lembut.

“Ya. Bapak benar, mungkin keputusan yang diambil kakekku waktu itu benar-benar membawa perubahan besar di dunia ini. Walaupun kelihatannya dia tidak mengetahui hal itu.” Viola manatapku kemudian menarik tanganku dan melangkah menjauhi Pak Hendra.

Aku tau kalau saat itu Pak Hendra sedang memperhatikan kami yang berjalan ke bagian utara pulau dengan senyuman.

Aku kembali melihat wajah Viola yang menatap lurus ke depan tanpa melepaskan genggaman tangannya di tanganku dan menarikku untuk berjalan lebih cepat.

Saat ini Angga pasti sudah melaju Ellie menuju bagian utara pulau, karena itulah aku mulai mempercepat langkahku dan berbalik menarik tangan Viola.

Saat menggenggam erat tangan Viola, itu terasa seperti aku bisa melawan semua manusia di dunia ini.

--

Kami melewati hutan yang hampir sama dengan yang aku lewati bersama Angga tadi malam. Ternyata bukan hanya hutan yang melingkar mengelilingi Pulau Tengah, sungai di dalam hutan itu pun mengalir memutari Pulau Tengah.

Menyingkap dedaunan seperti sebelumnya, menikmati cahaya matahari yang menembus daun pohon di atas kami, membuat sebuah cahaya bulat kecil di tanah, bergerak karena tertiup angin.

Aku membiarkan Viola memimpin jalan, aku ingin melihat sosoknya yang berjalan di depanku. 

Rambutnya sesaat terhempas hembusan angin kecil. Baju putihnya seperti bersinar terkena cahaya matahari. Aku hanya menatap gadis kecil di hadapanku ini, apakah benar impianku sudah terwujud ?

Impianku untuk mencapai Pulau Tengah bersama sahabatku dan gadis yang kusukai.

Lalu sekarang apa lagi ?

Pertanyaan itu bergelantungan di kepalaku. Apa yang akan kulakukan setelah ini ? Hidup damai di Pulau Utara ? Kembali ke Pulau Selatan yang aku yakin sekarang sedang diserang oleh Orang Luar ? Atau membatalkan keputusanku dan tetap tinggal di Pulau Tengah.

“Andi.”

Lamunanku terpecah oleh suara Viola yang berhenti dan menatapku seperti ingin menanyakan sesuatu. Aku hanya menatapnya tanpa bisa mengatakan sepatah kata pun.

“Saat kita sudah keluar dari pulau ini, aku ingin mempertahankan sejarah negara ini. Aku tidak akan membiarkan Orang Luar itu merampas apa yang menjadi milik kita.”

Aku hanya menatapnya dan tidak ada satu kata pun yang bisa kukatakan untuk menjawab apa yang dikatakan Viola.

“Dan bersamamu selamanya sampai aku akan datang ke pulau ini lagi adalah salah satu dari impianku.”

Viola tersenyum.

Apa yang bisa kulakukan ?

Apa yang akan kulakukan ?

Akan kubawa kemana perasaan ini ?

Daun pohon di atasku seperti berhenti bergerak. Suara gemericik air itu terasa semakin menjauh padahal aku tidak berpindah dari tempatku berada. Ini seperti lubang hitam supermasif yang bisa menelanmu dengan kuat dan memuntahkanmu di dimensi lain di luar dunia ini.

Aku hanya bisa menatapnya, melihatnya tersenyum manis dan kembali berjalan dengan menyembunyikan senyumannya. Meninggalkanku yang berdiri terpaku seperti tidak bisa melakukan apapun.

“Hal kecil yang membuatmu menghilang adalah diriku. –Blue nomor 2.”

--

Aku melihat Angga berada di samping Ellie Marciela.

“Aku sudah menembakkan misil radar ke Pulau Utara. Dengan kecepatan itu, sekarang pasti sudah menancap di lepas pantai. Aku berharap tidak ada orang di sana.” Angga memegang alat kotak kecil untuk mengecek keberadaan misil yang dia tembakkan.

“Di dalam misil itu sudah tertanam alat yang terhubung dengan radar Ellie. Dengan kendali otomatis kamu bisa ke Pulau Utara dengan mudah.” Angga melanjutkan.

“Kalau begitu, ayo kita segera pergi dari tempat ini.” Aku melangkah mendekati Ellie.

Aku menengok ke belakang, melihat Viola yang berdiri tampak tidak percaya dengan kapal cepat yang berhasil mengantarkan kami ke Pulau Tengah.

“Viola, kamu naik duluan bersama Angga. Setelah sampai di Pulau Utara, temukan sumber listrik di sana dan isi ulang bahan bakar Ellie. Aku akan menunggu kalian di tempat ini.” Aku menyentuh badan kapal cepat yang kubuat selama kurang lebih 10 tahun.

Viola mengalihkan pendangannya dengan cepat ke arahku dan berjalan dengan cepat menuju tempatku berada. Aku sedikit melangkah mundur untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi.

“Apa maksudmu dengan tinggal di sini, kita akan ke Pulau Utara bersama-sama.” Viola menggenggam dengan erat kedua bahuku.

“Tapi, kapal itu hanya cukup untuk dua orang.” Aku menatap Viola yang melihatku dengan sedikit menahan amarahnya.

“Kalau begitu aku juga tidak akan pergi.” Viola melepaskan kedua tangannya dari bahuku.

“Kalau begitu kita akan pergi bertiga.” Angga mendekat dan mengeluarkan sesuatu dari tas besar yang dia bawa.

“Aku membawa tiga baju pelindung, kita bisa keluar dari pulau ini bersama-sama.” Angga menyerahkan baju pelindung kepada Viola.

“Kapal itu tidak akan bisa melaju maksimal.” Aku melihat Angga yang masih tampak tenang.

“Tidak ada jalan lain, aku juga tidak akan meninggalkanmu di tempat ini.”

Aku tidak percaya apa yang dikatakan Angga. Di saat seperti ini, kalau hanya dengan modal tekad kami tidak akan bisa mecapai Pulau Utara.

“Pakailah, Viola.” Viola menerima baju pelindung dari Angga dan mulai memakainya.

Angga kemudian menyerahkan baju pelindung kepadaku dan dia juga mulai memakai baju pelindung ketat berwarna hitam itu.

“Baiklah, ayo kita pergi dari pulau ini.”

Kami bertiga melangkah mendekati Ellie.

“Viola, karena ini adalah impian kami berdua. Kami ingin kamu yang mengendalikan kapal ini untuk menuju Pulau Utara.” Angga berdiri di dekat Ellie dan menyentuh gas kemudinya.

“Tapi, aku tidak bisa mengemudikan kapal.” Viola tampak takut.

“Tidak apa-apa, kita akan menggunakan kendali otomatis, kami hanya ingin kamu memimpin perjalanan ini.”

Viola menatap Angga yang tersenyum kepadanya kemudian menatapku yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Tapi, aku akan mengikuti rencana Angga. Karena itulah aku tersenyum kepada Viola untuk meyakinkannya bahwa dia bisa melakukannya.

“Kalau begitu aku akan melakukannya.” Viola menatap Ellie dalam-dalam kemudian berjalan mendekat.

“Naiklah dan aku akan memasang pengamannya.” Angga melepas tangannya dari gas kemudi.

Setelah Viola naik dan mulai menggenggam erat kedua gas kemudi, Angga mulai memasang perekat yang akan menahan tubuh Viola tetap berada di kapal saat melewati gelombang Pulau Tengah.

“Yap. Semua sudah selesai, kemudian nyalakan mesinnya.” Angga menunjuk sebuah tombol merah dengan gambar sebuah pesawat kertas yang menjadi simbol kemudi otomatis yang kubuat.

Setelah Viola menekan tombol itu, mesin pun menyala. Aku mulai mendekati kapal untuk memastikannya menyala dengan normal setelah kejadian tadi malam. Aku menyentuh bagian belakang kapal dan merasakan getaran yang lembut.

“Mesinnya bagus.” Aku melihat Angga yang kembali memegang benda kotak hitam.

“Oke. Andi, bantu aku mendorong kapal ini ke air.”

“Eh. Kalian tidak naik ?” Viola tampak kaget.

“Setelah kapal ini menyentuh air, kami akan segera naik.” Angga tersenyum meyakinkan.

Kami berdua mendorong bagian belakang kapal mengarah ke air laut. Sebuah bentangan air luas yang terbatasi oleh kabut tebal di ujungnya.

Setelah kapal itu menyentuh air, aku melihat Angga yang membalikkan badannya sambil menyentuh layar kotak hitam itu.

“Oke. Persiapan terakhir sudah selesai.” Angga berbalik dan menatap Viola dengan senyumannya yang ramah.

--Syuuutttt ..

Suara dari lubang semburan air bagian belakang kapal terdengar memekakkan telinga.

“A-apa yang terjadi ?” Viola tampak kebingungan.

“Angga apa maksudya ini ?” Aku melangkah mendekati Angga.

“Setelah mencapai Pulau Utara, kapal itu akan kembali ke Pulau Tengah. Tenang saja, Viola.” Angga masih tersenyum dengan tenangnya.

“Kami berdua akan menunggu di sini.”

Setelah mendengar hal itu, aku mulai mengerti apa yang dilakukan Angga saat ini.

Aku menatap Viola yang menatap kami dengan kaget dan tidak bisa mengatakan apapun. Dia berhenti mencoba melepas perekat baju pelindungnya.

“Berjanjilah kalau kamu tidak akan melepas genggamanmu dari gas kendali itu sampai di Pulau Utara.” Aku tersenyum kepada Viola.

“Tidak. Lepaskan perekat ini, aku tidak akan pergi sendiri.” Viola mulai mencoba melepas perekat itu dan suara mesin mulai mengeras.

“VIOLA !!” Aku berteriak dengan seluruh perasaan yang kumiliki saat ini.

“INI ADALAH IMPIAN KAMI, KARENA ITULAH TETAPLAH HIDUP.” Aku tidak bisa lagi menahan air mataku.

Angga masih menatap Viola dengan senyumannya, tapi aku tau kalau dia juga menangis.

“Ini permintaanku, tolong. Genggamlah gas kendali itu.” Aku sudah tidak bisa mengimbangi suara mesin yang bercampur suara angin sejuk pantai Pulau Tengah.

Viola menunduk dan berhenti mencoba melepas perekat itu. Aku melihatnya mulai melihat ke arahku.

Dengan tangis dan senyum di wajahnya yang cantik dia berkata.

“Terimakasih.”

-- Syuuuuuuutttt

Tiba-tiba suara mesin itu berhenti sepersekian detik.

--DUM !!

Saat itu Viola sudah menggenggam erat gas kemudi Ellie Marciela.

Kapal melaju dengan sangat cepat, menghempaskan angin yang sangat kencang ke arah sepasang sahabat yang menatap jauh orang yang mereka sukai. Seperti tidak bisa melakukan apapun, aku hanya berdiri terpaku sambil sedikit menutup mataku untuk menghindari pasir pantai yang berterbangan di udara.

Setelah beberapa saat terjebak dalam suara ombak pantai yang mulai kembali normal. Angin yang mulai bertiup lembut. Pasir yang mulai kembali ke tempat asalnya. Angga mendekatiku yang masih menatap jauh laut biru itu.

“Angga, kenapa kamu melakukannya ?” Aku masih menatap laut itu.

Angga tidak menjawab pertanyaanku. Dia meletakkan ransel yang ada di punggungnya kemudian membuka ransel tersebut. Di dalamnya terdapat lebih dari dua puluh trinitrotoluena dan beberapa senapan laras pendek.

“Apa maksudnya ini ?” Aku menatap Angga yang masih melihat isi ransel tersebut.

“Kita akan menghancurkan pulau ini.”

Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar, tapi aku tetap diam dan menunggu Angga melanjutkan.

“Saat aku mengambil Ellie di bagian selatan, sesuatu muncul dari langit. Saat aku melihatnya, aku seperti melihat sesuatu yang tidak asing. Itu misil radar.”

“Orang Luar sudah menembakkan beberapa misil ke pulau ini, itu artinya tidak lama lagi mereka akan menembus pulau ini dengan kapal cepat buatan mereka.”

“Aku tidak punya pilihan lain, tadinya aku tidak ingin melibatkanmu dalam hal ini. Tapi, aku tau pada akhirnya kamu akan terlibat juga. Karena itulah, aku meminta bantuanmu untuk menyelesaikan semua ini.”

Aku melihat Angga menunduk seperti menyesal dengan apa yang telah dia lakukan.

“Bodoh. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi jagoan sendirian.” Aku melihat Angga yang menatapku dengan kelegaan di hatinya.

“Kalau begitu, apa rencanamu selanjutnya ?” Aku akan mengikuti apapun rencana Angga.

“Dalam tas ini ada dua puluh satu trinitrotoluena yang siap di ledakkan. Aku sudah menanam dua buah di pantai bagian selatan pulau ini. Selanjutnya kita akan memanfaatkan aliran sungai Pulau Tengah untuk menyebarkan trinitrotoluena yang akan kulengkapi dengan alat pengapung. Dengan melihat ukuran pulau dan kecepatan aliran air sungai, kemungkinan seluruh trinitrotoluena akan mengapung mengelilingi pulau dalam satu jam. Kamu akan meletakkan satu demi satu trinitrotoluena di aliran sungai ini dan aku akan menahan Orang Luar agar tidak bisa mencapai tempat ini. Setelah semua trinitrotoluena sudah mengapung di sungai, kita akan meledakkannya.”

“Bagaimana dengan penduduk pulau ini ? Mereka semua akan mati.”

“Bukankah mereka telah mati ?” Angga menatapku dengan serius.

“Tapi, kita tidak bisa membiarkan mereka menghilang begitu saja.” Aku mulai tidak setuju dengan pendapat Angga.

“Tidak masalah untuk kami, selama itu untuk kebaikan manusia.”

Suara itu melunturkan emosiku seketika.

“Pak Hendra ?” Aku menoleh ke arah hutan dan terlihat Pak Hendra yang sudah berdiri tidak jauh dari kami berdua.

“Aku sudah mendengar rencana kalian. Itu rencana yang bagus. Kalian harus melakukannya, aku akan mengamankan penduduk ke dalam menara, meskipun aku tidak tau apa yang akan terjadi. Tapi, setidaknya lakukan hal itu. Tidak perlu memikirkan kehidupan kami. Seharusnya kalian yang memikirkan nyawa kalian sendiri.” Pak Hendra berdiri dengan gagahnya dan mengatakan hal itu dengan suara yang lantang.

“Aku sudah tidak peduli lagi dengan nyawaku. Kalau memang ini berguna, maka akan kulakukan.” Angga mengepalkan tangannya erat-erat.

Aku melihat keberanian yang luar biasa dari dua orang di depanku. Mereka tidak peduli lagi hidup atau mati. Seharusnya aku juga memiliki perasaan yang sama seperti mereka.

“Ya. Aku juga akan melakukannya. Tapi, aku tidak berniat mati di tempat ini. Ada jalan lain untuk keluar hidup-hidup dari pulau ini.” Aku memikirkannya dengan keras, tapi segala kemungkinan yang di buat oleh logikaku mengatakan bahwa itu mustahil. Setelah trinitrotoluena diledakkan, tidak ada lagi jalan keluar. Pulau ini pun akan hancur dengan kekuatan dua puluh trinitrotoluena.

--DUUAAR !!

Tiba-tiba suara dari kejauhan terdengar sangat keras. Suara ledakan.

“Gawat mereka sudah sampai.” Angga mulai mengambil dua pistol dan beberapa peluru dari ranselnya.

“Andi, kita harus cepat melakukan rencana ini.” Angga menyerahkan ransel yang dia bawa kepadaku.

“Pak Hendra, mohon bantuannya untuk mengamankan semua penduduk di dalam menara. Itu adalah satu-satunya tempat yang tidak bisa dimasuki oleh Orang Luar.” Angga mendekati Pak Hendra.

“Tunggu. Kenapa mereka sudah mulai menyerang ?” Aku mendekat ke arah Angga.

“Kemungkinan pemerintah mengerahkan militer untuk mengejar Orang Luar sampai di pulau ini.”

“Sialan. Ternyata mereka telah menemukan kapal cepat.” Aku sangat kesal mengetahui bahwa negara ini sudah menemukan kapal cepat yang bisa menembus Pulau Tengah. Itu artinya, seharusnya Pemerintah bisa mengusir Orang Luar dari Pulau Barat.

“Bagaimana ini ? Apa kalian tetap melakukan rencananya ?” Pak Hendra mulai panik dengan suara ledakan berulang yang mulai terdengar.

“Kita hancurkan semuanya, Angga.” Aku menatap Angga dengan penuh emosi. Aku sudah muak dengan permainan para petinggi yang terus bersembunyi dengan alasan keamanan negara. Padahal mereka hanya takut kalau harta mereka, kedudukan mereka, semua yang mereka miliki di ambil oleh Orang Luar. Jika mereka tidak mau bergerak, maka aku akan bergerak sendiri. Aku yang akan mengubah negara ini.

“Kalau begitu, aku akan mengamankan Pak Hendra sampai di menara. Kamu segera sebarkan trinitrotoluena itu.”

Angga melepas baju pelindungnya dan mulai berjalan bersama Pak Hendra memasukki hutan.
Saat ini aku tidak bisa berhenti berpikir bagaimana aku keluar hidup-hidup dari pulau ini. Berperang untuk mati dan mengorbankan nyawa itu berbeda.

--

Aku mulai berlari ke arah sungai dalam hutan setelah melepas pakaian pelindung yang ku pakai. Aku membawa ransel yang diberikan Angga kepadaku, di dalamnya terdapat dua puluh satu trinitrotoluena, beberapa pistol, peluru, pisau dan granat.

Aku terus memikirkan cara bagaimana untuk keluar hidup-hidup dari tempat ini.

Aku sudah sampai di dalam hutan ketika terdengar suara beberapa orang yang berlari dan menginjak daun-daun kering dalam hutan. Aku mulai berlari dan masuk ke dalam tumbuhan berdaun lebat. Dari sela-sela dedaunan tumbuhan itu aku bisa melihat beberapa orang dengan pakaian serba hijau dan pelindung kepala berbentuk tempurung. Mereka berlari dari bagian selatan pulau, mereka pasti memutuskan untuk bergerilya melawan militer negara ini.

Aku mengambil pistol yang sudah berisi peluru dari dalam ransel. Jantungku berdetak kencang. Angin yang berhembus menjadi lebih dingin.

Aku mulai bergerak perlahan ke arah sungai dengan berlindung di balik semak-semak. Aku berusaha untuk tidak membuat suara sekecil apapun.

“Siapa itu ?”

Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan. Mereka sudah menyadari keberadaanku itu yang kupikirkan.

Kemudian Orang Luar itu berlari lebih cepat ke arahku.

Aku berdiri dan berlari sekuat tenaga menuju sungai, hanya itulah yang terpikir olehku. Aku harus segera menyebar trinitrotoluena ini.

“Berhenti.”

Mereka terus berteriak, tapi aku tidak menghiraukannya dan terus berlari.

Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Beberapa dedaunan di sampingku tersibak oleh peluru yang meluncur dengan cepat. Mereka mulai menembak ke arahku.

Aku berlari lebih cepat dengan semua tenaga yang kumiliki. Mereka terus menembakiku tanpa henti.

Di depanku terlihat sebuah pohon besar dan aku merasa sudah berlari jauh dari Orang Luar itu. Aku bersembunyi di balik pohon besar itu. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang melambat dari belakangku. Aku berusaha melihatnya tanpa disadari oleh orang itu. Dia adalah salah satu Orang Luar yang mengejarku tadi. Mereka telah berpencar.

Kalau aku menembaknya sekarang, anggotanya pasti akan segera datang ke tempat ini. Aku memasukan pistol ke kantong celanaku dan mengambil pisau dari ransel. Aku menunggu sampai orang itu berbalik membelakangi pohon ini.

Saat dia berbalik aku mengendap mendekatinya.

-Krak

Sial. Aku menginjak sebuah patahan ranting kering sebelum bisa menjangkau orang itu dengan pisauku.

Sesaat, orang itu berbalik dan mengangkat senapannya ke arahku. Tepat sebelum dia sempurna mengarahkan senjatanya, aku mendekat dengan cepat dan menendang senapannya dengan kaki kananku sampai senapan itu terlempar. Sebelum dia sempat berteriak, aku mengibaskan pisau di tangan kananku ke arah lehernya dan membuat luka tipis. Orang itu terjatuh. Dengan cepat aku menutup mulutnya dengan tangan kiriku. Aku mengubah posisi pisauku ke posisi menusuk. Aku mengayunkan pisau ini dan menekannya dalam-dalam ke leher orang itu. Aku menekan pisau itu dengan sangat kuat dan menahan tubuh orang itu yang bergetar sangat kuat. Darah kental mengalir ke tangan kananku, sedangkan tangan kiriku masih menahan mulut orang itu kuat-kuat.

Kejangan orang itu perlahan melambat dan berhenti.

Aku melepaskan tangan kiriku dari mulutnya yang terlihat menganga, aku juga mencabut pisauku dari lehernya. Aku terduduk dengan keringat mengalir dengan derasnya. Walaupun aku sudah membunuh banyak orang pada peledakan Pulau Barat, tapi ini adalah pertama kalinya aku membunuh orang secara langsung.

Aku berusaha menenangkan diriku dan mencoba berpikir bahwa ini untuk kebaikan.

Aku mulai berdiri dan melanjutkan perjalananku ke sungai.

--

Aku masih belum bisa melupakan wajah orang yang kubunuh tadi.

Aku menyibakan dedaunan dengan pikiran yang menerawang jauh sampai sebuah pemikiran untuk bertahan hidup sejauh yang aku bisa.

Ini adalah murni peperangan, aku membunuh atau dibunuh. Aku hampir kehilangan akal sehatku, tapi aku berusaha sekeras mungkin untuk menerima dengan logikaku bahwa ini yang terbaik.

Aku berpikir sampai aku tidak sadar bahwa aku sudah sampai di depan sungai yang mengalir cukup deras.perlahan masih terdengar suara tembakan dari kejauhan di bagian selatan.

Aku membuka ransel dan mengeluarkan beberapa trinitrotoluena, untuk bisa mendapatkan jarak yang cukup sempurna antar trinitrotoluena yang mengalir di sungai, aku harus menunggu selama tiga menit untuk meletakan satu trinitrotoluena setelah trinitrotoluena yang lain mengalir. Butuh waktu satu jam untuk mengalirkan semua trinitrotoluena dalam ransel ini.

Aku tidak mungkin menunggu selama itu.

--

Aku sudah mengalirkan sepuluh trinitrotoluena dan keberadaanku belum diketahui oleh tentara Orang Luar.

Setelah trinitrotoluena ke sepuluh mengalir selama tiga menit, aku harus mengalirkan satu trinitrotoluena. Tapi, saat aku menjulurkan tanganku untuk meletakan trinitrotoluena itu ke sungai, ada perasaan aneh di lengan kananku, seperti sedikit panas tapi sangat menyengat, mungkin aku bisa merasakan sebuah benda yang meluncur sepersekian detik tidak tepat mengenai lengan kananku dan membuatku menjatuhkan trinitrotoluena ke sebelas hanyut bersama aliran sungai.

Dengan cepat aku menoleh ke belakang dan di kejauhan terlihat dua tentara Orang Luar yang mengarahkan senapannya ke arahku. Aku langsung meraih ranselku dan berlari berlawanan arah dengan arus sungai. Suara tembakan mereka tidak terdengar, pasti mereka menggunakan peredam di senapan mereka.

Aku tetap harus melakukan tugasku untuk menghanyutkan trinitrotoluena ini. Setiap beberapa detik aku berlari, aku melemparkan satu trinitrotoluena ke aliran sungai. Sampai pada saat tinggal dua trinitrotoluena yang tersisa, aku melihat trinitrotoluena yang kuhanyutkan pertama kali sudah mengapung di aliran sungai itu. Aku memutuskan untuk menyimpan dua trinitrotoluena terakhir.

Aku tidak menyadari bahwa kekuatan lariku bisa secepat ini. Saat aku menoleh ke belakang, aku sudah tidak menemui tentara Orang Luar itu mengejarku.

Aku menyeberangi sungai dengan hati-hati, agar tidak mengacaukan aliran trinitrotoluena itu. Setelah sampai di tepi lain sungai itu, aku langsung berlari untuk menuju bagian tengah pulau.

Dalam perjalanan aku berpikir, pasti setelah peledakan Pulau Barat. Orang Luar menyerang Pulau Selatan, aku tidak tau bagaimana nasib Paman Tomi dan pasukannya. Aku berharap mereka baik-baik saja.

Dan untuk Viola, mungkin saat ini dia sudah berada di pantai Pulau Utara. Dengan jarak yang cukup jauh, aku harap Viola bisa bersembunyi di Pulau Utara sebelum Orang Luar itu sampai di sana.

Aku terus berlari sampai terlihat kilatan cahaya terang yang berarti hutan ini akan segera berakhir.

--

Aku berdiri di samping sebuah pohon besar di hutan terdekat dengan bagian tengah pulau. Aku melihat tidak ada siapapun di tanah lapang itu, hanya terlihat sebuah menara besar yang tak tergores berdiri kokoh di sana. Aku bahkan tidak melihat Angga. Tidak mungkin kalau dia bisa masuk ke dalam Zouter. Aku melihat sekelilingku, kemungkinan Angga masuk ke dalam hutan untuk melawan Orang Luar karena mereka belum sampai di bagian tengah pulau.

Aku menyiapkan pistol yang ada dalam ranselku. Aku mengisi penuh pistol itu dengan peluru yang akan menjadi satu-satunya alat untuk melindungi diriku atau lebih tepatnya untuk selamat dari kematian.

Aku mulai berjalan ke arah Zouter.

Samar-samar terdengar suara tembakan di bagian selatan. Sudah hampir satu jam lebih sejak mereka sampai di pulau ini dan pertempuran masih berlanjut. Aku berharap tidak sampai harus menekan tombol pemicu trinitrotoluena itu. Aku juga berharap mereka semua saling membunuh sampai tidak ada yang tersisa, sehingga mereka tidak perlu sampai merusak pulau ini.

Aku menatap dalam-dalam menara tinggi di hadapanku ini. Sebuah maha karya yang entah siapa penciptanya. Sudah berapa lama dia berdiri kokoh di tempat ini. Aku berhasil mencapai tempat ini. Tempat yang menjadi impian dalam hidupku. Bersama sahabatku menyibakan kabut tebal yang menutupi pulau ini dan melihat misteri yang belum pernah disaksikan oleh manusia sebelumnya.

Aku sudah menepati janjiku.

“Andi, Awas ! –

Aku mendengar teriakan dari seseorang yang kukenal. Saat aku menoleh sekilas aku melihatnya berlari dari dalam hutan, sebelum tiba-tiba pendengaranku berdenging, pikiranku mengatakan bahwa tidak ada tempat untuk bersembunyi atau melarikan diri seperti sebelumnya.

Aku merasakan kulitku seperti terbakar, tapi mungkin lebih tepatnya ribuan debu yang terasa seperti salju.

Eh. Kenapa ?

Kenapa tubuhku seperti melayang. Seperti diterbangkan angin.

Aku tidak bisa mengendalikannya lagi. Lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

--

Samar-samar terdengar suara Angga di dekatku.

“Sialan. Akan kubunuh kalian semua.”

Aku merasakan tangannya menyentuh begian belakang kepalaku. Aku juga mendengar suara tangisan.

Seperti ada banyak orang yang mengerumuniku dan Angga. Terasa seperti mereka memiliki niat jahat. Atau niat membunuh.

Angga mengatakan banyak hal yang sudah tidak bisa dimengerti oleh kepalaku.

Viola.

Mungkin aku tidak bisa bersamamu.

Maafkan aku.

Saat itu, aku tau Angga pasti menekan pemicu trinitrotoluena yang ada padanya. Saat itu pula semua impian, harapan dan sesuatu yang membuatku tetap hidup sampai saat ini akan menghilang.

Sebuah jurang besar antara kehidupan dan kematian menganga lebar.

Dan bagaimanapun aku akan memasukinya.

Tidak.

Semua manusia yang merasakan kehidupan akan merasakannya.

Itu adalah cerita singkat kehidupan. Seperti berteduh di bawah pohon rindang yang tetap tidak bisa melindungimu dari derasnya hujan.

Pohon rindang itu adalah kehidupan.

Hujan deras itu adalah kematian.

--

“Namaku Andi, saat berumur 13 tahun aku bermimpi untuk pergi ke sebuah pulau yang penduduk tempatku berasal menyebutnya sebagai Pulau Kabut. Mereka berkata kalau belum pernah ada orang yang pergi ke pulau itu.”

“Saat ini aku berumur 25 tahun dan aku duduk di dekat sebuah menara besar yang bernama Zouter. Sebuah menara pembatas antara kehidupan dan kematian.”

“Aku berhasil mewujudkan mimpiku, menantang negaraku, menantang musuh negara ini, menantang sahabatku, orangtuaku bahkan aku menantang kehidupan. Bukan. Menurutku kehidupan yang sebenarnya bukanlah kehidupan yang kebanyakan orang jalani. Diciptakan sebagai manusia berarti memiliki peran dalam kehidupan ini. Peran itu bukanlah sesuatu yang dibentuk oleh orang lain. Berpikir lebih dalam dan menemukan dirimu sendiri. Seperti apa dirimu yang sesungguhnya. Apa kamu masih terus bersandiwara dan mencoba membiasakan diri dengannya.”

“Pertanyaan yang mengusik pikiranku sampai saat ini.”

“Apa kamu sudah benar-benar hidup menurut kehendakmu sendiri ?”

“Namaku Andi, peranku di dunia ini sudah selesai. Tapi, mimpi besar itu masih membuat jantungku berdebar-debar sampai saat ini.”

--


Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "[Read] #7 Di Tempat Yang Jauh - Dynamite"