[Read] #8 Di Tempat Yang Jauh - Masa Depan (End)

Di sebuah pantai berpasir putih dengan obak yang menabrak karang dengan kerasnya serta angin sejuk yang bertiup pagi itu.

Pulau Utara.

Dua tahun berlalu setelah hancurnya Pulau Tengah.

Seorang wanita cantik berambut hitam panjang, bola mata biru dan kulit coklat terang. Duduk di sebuah batu kecil di pinggir pantai, air laut tidak mungkin menjangkaunya saat itu. Beberapa anak kecil duduk melingkar di hadapan wanita itu.

Wanita itu adalah Viola.

Saat ini Viola tinggal di Pulau Utara bersama banyak penduduk yang pergi dari Pulau Barat dan Pulau Selatan.

Pulau Barat.

Setelah dilakukan peledakan di Pulau Barat, Paman Tomi dan pasukannya langsung meluncur ke Pulau Selatan untuk mengirim semua penduduk di Pulau Selatan menuju Pulau Timur. Lima buah kapal besar dan puluhan kapal cepat dikerahkan oleh Paman Tomi untuk mengangkut penduduk Pulau Selatan.

Satu bulan berlalu. Orang Luar yang tidak terima dengan serangan di Pulau Barat mengerahkan banyak militer untuk menyerang Negara Pulau. Mereka mulai menyerang Pulau Selatan. Tapi, saat memasuki Pulau Selatan, mereka tidak menemukan siapapun di sana. Militer Orang Luar dengan mudahnya menguasai Pulau Selatan.

Sepuluh hari setelah Orang Luar menguasai Pulau Selatan, tepatnya empat puluh hari setelah peledakan Pulau Barat, Pasukan Kemerdekaan dari semua pulau bergabung dan  meluncur ke Pulau Selatan untuk merebut kembali pulau itu.

Pertempuran besar tak bisa dihindari. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Paman Tomi yang saat itu menjadi pemimpin Pasukan Kemerdekaan memutuskan untuk mundur dari pertempuran.

Tapi, saat Pasukan Kemerdekaan hampir dipukul mundur, terdengar sebuah ledakan besar yang berasal dari Pulau Tengah. Gelombang besar menghantam Pulau Selatan yang menjadi pulau terdekat dengan Pulau Tengah. Kapal Orang Luar terhempas masuk ke Pulau Selatan dan Kapal Pasukan Kemerdekaan terombang-ambing di lautan.

Paman Tomi memutuskan untuk meluncur dengan cepat ke Pulau Timur.

Terjadi ledakan yang sangat dahsyat di Pulau Tengah. Kabut yang menutupi pulau itu hilang seketika bersamaan dengan tenggelamnya seluruh bagian pulau beserta isinya. Semua orang di negara itu bisa menyaksikan dengan jelas sebuah menara yang sangat tinggi dengan perlahan masuk ke dalam gelapnya lautan. Satu jam adalah waktu yang diperlukan untuk laut menelan dengan sempurna menara itu.

Semua manusia yang hidup di negara itu hanya bisa membuka mulut mereka. Dan menyuarakan kekaguman mereka dalam diam. Bahkan satu kata pun tidak mampu keluar dari mulut hampir satu juta umat manusia.

Setelah kejadian luar biasa itu, puluhan anggota Pasukan Kemerdekaan mengajukan diri untuk melakukan penyerangan kembali ke Pulau Selatan.

“Ini murni pengorbanan, kita akan meledakan bom kimia yang kita miliki.” Kata salah satu anggota Pasukan Kemerdekaan kepada Paman Tomi.

Paman Tomi melihat bahwa itu adalah satu-satunya kesempatan, saat Pulau Selatan dihantam gelombang besar, Orang Luar pasti dalam keadaan tidak siap untuk menerima serangan beruntun.
Pasukan Kemerdekaan dengan di pimpin oleh Paman Tomi bersiap di lepas pantai Pulau Timur yang mengarah ke Pulau Selatan. Setelah Zouter tenggelam dengan sempurna, mereka meluncur dengan cepat menuju Pulau Selatan.

Pertempuran kembali terjadi, banyak militer Orang Luar yang tewas akibat gelombang besar yang menghantam Pulau Selatan.

Pasukan Kemerdekaan dengan mudah berhasil menembus sampai di bagian tengah pulau. Mereka menanamkan beberapa bom kimia di Pulau Selatan.

Setelah berhasil, Paman Tomi menarik mundur seluruh pasukannya.

Setelah diledakkan, bom kimia itu akan membentuk sebuah asap tebal yang akan menyelimuti semua bagian Pulau Selatan. Asap itu adalah racun yang sangat mematikan. Tujuan Pasukan Kemerdekaan adalah untuk melenyapkan Orang Luar dan juga melenyapkan Pulau Selatan. Karena dengan kondisi Pulau Selatan yang tidak pernah dilanda angin yang kencang, maka asap beracun itu akan terus menyelimuti Pulau Selatan.

Pulau Tengah telah dihancurkan. Tapi, ada satu fakta yang kembali terungkap bahwa ada perbedaan waktu yang sangat besar antara Pulau Tengah dengan pulau-pulau lain di negara ini. Satu hari di Pulau Tengah sama dengan empat puluh hari di pulau lain. Hal ini tidak bisa dijelaskan secara logika, tapi memang murni sebuah relativitas atau tergantung perasaan manusia itu sendiri.

Setelah Pulau Barat, Pulau Selatan dan Pulau Tengah dihancurkan. Negara ini tinggal memiliki dua pulau, yaitu Pulau Timur dan Pulau Utara.

Pasukan Kemerdekaan membentuk pemerintahan yang baru di Pulau Timur dan mengerahkan banyak militer untuk mengamankan dua pulau yang tersisa.

Orang Luar yang mengalami kerugian yang besar akibat peperangan panjang dengan negara ini memutuskan untuk berhenti dan tidak pernah kembali ke negara ini.

Dengan begitu perang di negara ini berakhir.

--

“Wah. Mereka semua sangat senang mendengar syair-syair darimu, Viola.” Seorang laki-laki yang berumur sekitar 60 tahun berjalan mendekati Viola yang sedang mengajarkan syair kepada anak-anak di pantai Pulau Utara.

“Iya, pak. Mereka harus bisa melestarikan budaya negara ini.” Viola menatap laki-laki itu dengan senyum ramah di wajahnya.

“Boleh aku bicara sebentar.” Laki-laki itu berhenti dan menatap Viola dengan senyumnya.

“Oh. Baiklah, pak.” Viola membereskan buku yang masih terbuka dan mengalihkan pandangannya ke anak-anak di hadapannya.

“Kalian bermain sendiri dulu ya. Hati-hati, jangan terlalu dekat dengan laut.” Viola berdiri dan mendekati laki-laki itu.

Mereka kemudian duduk di bawah pohon kelapa yang tinggi menjulang tapi terlihat tidak ada buah di atasnya.

“Bagaimana kondisi tubuhmu saat ini ?” Laki-laki itu bertanya kepada Viola.

“Saya tidak pernah merasa sebaik ini sebelum keluar dari pulau itu. Bisa dibilang penyakit saya sudah sembuh secara total.” Viola menundukan pandangannya sambil tersenyum.

“Syukurlah kalau begitu.” Laki-laki itu menatap ke atas langit yang terlihat biru dengan dihiasi awan putih yang terlihat lembut.

“Aku seharusnya mengucapkan terimakasih kepada mereka berdua.” Laki-laki itu melanjutkan.

“Mungkin dengan keadaan bapak saat ini, mereka sudah menerima terimakasih dari bapak.” Viola menatap laki-laki itu.

“Yah. Semoga saja begitu. Tapi siapa yang menyangka kalau mati di pulau itu akan mengembalikanku ke dunia ini.”

Sesaat suasana hening. Hanya terdengar suara ombak dari kejauhan dan beberapa burung yang terbang di atas langit.

“Ya. Kurasa Pak Hendra dan yang lain belum menyelesaikan perannya di dunia ini.” Viola menatap laki-laki itu dengan dalam. Kemudian tersenyum dan berkata.

“Mungkin akan banyak kebaikan yang bisa Pak Hendra ciptakan dengan kembali hidup.”

“Terimakasih, Viola. Sayang yang kembali hidup hanya mereka yang sudah meninggal. Kalau semua bisa dikembalikan pasti mereka sedang bermain denganmu saat ini.”

“Mungkin ini yang terbaik yang sudah ditentukan oleh takdir dunia ini.” Viola tersenyum dan melihat Pak Hendra yang mulai berdiri.

“Baiklah, aku akan ke kota sekarang. Semoga kebaikan mengiringimu hari ini, Viola.” Pak Hendra tersenyum.

“Semoga kebaikan menyertai bapak hari ini.” Viola menundukan badan tanda hormat kepada Pak Hendra yang mulai berjalan menjauh.

--

Pak Hendra dan orang-orang yang sudah meninggal dan dikirim ke Pulau Tengah berhasil selamat dari ledakan besar atau lebih tepatnya mereka kembali hidup karena ledakan itu.

Orang yang sudah meninggal kemudian dikirim ke Pulau Tengah dan kembali meninggal di pulau itu sebelum empat puluh hari, maka orang itu akan kembali ke dunia nyata.

--

Viola kembali ke tempat dia mengajar syair kepada anak-anak Pulau Utara.

Beberapa anak mulai duduk dengan rapi di depan Viola yang mengambil buku yang bertuliskan ‘Syair Pulau Baru’ di sampingnya.

“Baiklah, sekarang akan kakak bacakan sebuah syair baru yang masuk ke buku ini.” Viola tersenyum lembut sambil menunjukan buku berwarna hijau itu.

Anak-anak yang lain mulai berlarian ke arah Viola kemudian duduk dengan senyuman di wajah mereka.

Saat itu Viola berkata dalam hatinya sambil memandangi anak-anak yang tampak tidak sabar menunggu apa yang akan dikatakan oleh Viola.

“Saat ini apa yang sedang kalian lakukan ? Apakah kalian dikirim ke sebuah tempat yang jauh dari dunia ini ? Apa kalian tidak menyadari bahwa mimpi kalian telah mengubah sejarah peradaban manusia di dunia ini ? Saat kalian menyampaikan mimpi kalian di bukit itu, aku tau bahwa mimpi itu adalah mimpi yang besar. Meskipun saat itu logika ku mengatakan bahwa hal itu adalah hal yang mustahil, tapi kalian dengan semangatnya menunjukkan senyum kalian yang penuh dengan keyakinan. Selama aku tidak ada, pasti kalian mengalami banyak hal yang membuat kalian tumbuh menjadi lebih dewasa. Negara ini sudah damai sekarang. Kalau kalian melihatnya pasti kalian akan sangat bahagia. Melihat anak-anak yang memiliki impian besar tanpa harus khawatir dengan kehidupan mereka.”

“Saat ini aku ingin mewujudkan impianku juga. Aku akan membawa kebahagiaan untuk semua orang yang kutemui. Aku akan mewariskan mimpi besar kalian kepada generasi yang akan datang. Mungkin mimpi mereka tidak akan seperti mimpi kalian, tapi aku ingin menjamin bahwa mereka memiliki semangat yang sama untuk mewujudkan mimpi mereka.”

“Andi, Angga. Aku berharap kebaikan selalu menyertai kalian dimanapun kalian berada saat ini. Dan semoga saat ini, di tempat yang jauh ini, kita selalu diberi kebahagiaan.”

Saat itu, angin lembut berhembus, ombak pantai terdengar memecah keheningan sesaat itu, burung berwarna putih terbang di bawah birunya langit musim panas itu, daun pohon kelapa seperti menari terhempas angin sejuk.



“Di tempat yang jauh, langit biru membentang luas. Di tempat itu kamu sedang berdiri memandang langit tanpa mengetahui bahwa hal kecil yang kamu lakukan telah membuat dunia berubah.”


Viola



END
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "[Read] #8 Di Tempat Yang Jauh - Masa Depan (End)"