[Read] Vibrate

Langit setelah hujan adalah langit biru penuh cahaya. Langit yang dihiasi awan putih dan burung terbang tanpa rasa takut.

Kalau dipikir kembali, sudah berapa tahun hujan turun tanpa henti. Langit diselimuti awan gelap dan udara dingin menusuk setiap mili pori-pori kulit.

Yang kurasakan hanya dingin dan kesedihan yang bertubi-tubi. Terkadang, aku mencoba melupakan kegelapan itu dengan menyalakan sebuah lilin. Aku merasa hangat di dekatnya, aku melakukan apapun ditemani cahaya kecil itu. Tapi beberapa menit berselang, cahayanya padam dan kegelapan kembali menyelimuti. Udara terasa hampa dan menjadi dingin yang mencekat. Kemudian kesedihan kembali datang membabi buta.

Apakah kamu masih membohongi dirimu sendiri ?
Apakah kamu masih mencoba lari dari kebenaran yang diteriakan oleh hati kecilmu ?
Apakah kamu masih bergantung dengan cahaya sesaat untuk menutupi segala kegelapan yang hampir-hampir menelanmu ?

Sebenarnya kamu tidak sendiri. Jutaan umat manusia masih berjalan tanpa arah dalam kegelapan. Mereka merindukan cahaya hangat sang mentari, tapi mereka tidak tahu harus berjalan kemana, tidak tahu harus menatap kemana.

Beberapa bulan yang lalu, hujan yang sudah turun selama berpuluh-puluh tahun itu mulai reda dengan satu teriakan.
Teriakan dari mulut yang kubungkam di tengah derasnya hujan.
Perlahan, suara itu kubebaskan.
Mulanya tidak terdengar karena suara air dari langit yang begitu riuh.

Samar-samar, suara itu muncul ke permukaan. Suara yang akhirnya menjadi titik balik terbesar dalam kehidupanku.

"Apakah kamu akan berakhir seperti ini ?"

Ya. Apakah aku akan berakhir dengan kondisi seperti ini ?
Terpuruk dalam gelimang dunia fana. Tidak pernah merasa bahwa Sang Maha Raja selalu melihat. Tidak pernah berfikir bahwa segala sesuatu ada balasannya.

Suara yang terpendam puluhan tahun itu muncul dengan membawa ribuan pertanyaan.

Apa yang harus kulakukan ?

Kemudian aku berlari di tengah kerumunan yang meneriakan "Sok suci" dan berbagai pertentangan.
Aku berlari, pergi menjauh, menyendiri di sebuah pulau kecil berteman sebuah pohon kelapa yang teduh.
Aku memulai perjalanan untuk pergi dari tempat yang dilanda hujan badai.
Pergi untuk mencari seberkas cahaya yang belum pernah kulihat.

Untuk teman yang terjebak di tempat yang sama.

Pergilah.

Itu bukan melarikan diri. Itu adalah bentuk perlawanan terkuat.

Apa yang terjadi pasti terjadi karena suatu alasan.
Apa yang mereka katakan pasti terdengar karena suatu alasan.

Kuatlah.

Berjuanglah.

Karena hidup tidak mudah, maka manusia harus berjuang sekuat tenaga.

Apakah kamu akan berakhir seperti itu ?

Vibrate (Jakarta, 15 Mei 2017) | ©Candra Nugroho

Share this article :
+
Next
This is the current newest page
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "[Read] Vibrate"